fbpx
09 Oct

Kisah Tiga Pengibar Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945

pengibar bendera indonesia kemerdekaan 1945

Kisah Tiga Pengibar Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945

Setiap kali kita memperingati perayaan kemerdekaan di tanggal 17 Agustus, ada satu benda yang selalu menarik perhatian kita. Apalagi kalau bukan bendera pusaka yang selalu dikibarkan secara khidmat oleh para pengibar bendera merah putih setiap tahunnya.

Jika sekarang kita sudah mengenal Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka), di masa kemerdekaan dulu ada 3 orang yang berperan penting untuk menegakkan sang merah putih. Siapa saja tokoh penting pengibar bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945 itu?

Latief Hendraningrat

Bernama lengkap Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) ini populer karena kelihaiannya di medan juang. Di masa tugasnya sebagai tentara, Latief pernah menjabat sebagai komandan kompi bergelar Sudanco yang merupakan pangkat tertinggi kedua yang dimiliki warga pribumi setelah Daidanco (komandan battalion).

Peran Latief dalam perjalanan deklarasi kemerdekaan sangat besar. Ia dipercaya mengamankan Jalan Pegangsaan Timur dengan menempatkan anggotanya di sekitar lokasi. Setelah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno, dia menjadi pengibar bendera merah putih pertama bersama dengan Suhud Sastro Kusumo.

Suhud Sastro Kusumo

Suhud merupakan anggota Barisan Pelopor yang dibentuk oleh Jepang. Pada tanggal 14 Agustus 1945, dia mendapatkan mandat untuk menjaga keluarga Soekarno dari segala gangguan sebelum dua hari kemudian, presiden pertama RI itu dibawa ke Rengasdengklok.

Saat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah dipersiapkan dengan matang, Suhud lantas ditugaskan untuk mempersiapkan tiang bendera. Dia kemudian membentangkan Sang Merah Putih untuk kemudian ditarik Latief.

Suasana Pengibaran Sang Saka Merah Putih saat momen kemerdekaan Indonesia.

Surastri Karma (SK) Trimurti

Di masanya, SK Trimurti berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Terlepas dari itu, dia juga aktif menulis dan sempat dipenjara karena mendistribusikan selebaran antikolonial. Dia kemudian menikah dengan Sayuti Melik (yang pada saat kemerdekaan bertugas mengetik teks proklamasi). Bersama Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo, tokoh yang aktif dalam organisasi perempuan ini juga berperan penting sebagai pengibar bendera merah putih pertama dalam sejarah Indonesia.

Para pengibar bendera merah putih pertama di atas namanya mungkin jarang terdengar. Namun peran yang mereka lakukan dalam Proklamasi tidak bisa dianggap kecil. Bendera merah putih kini menjadi lambang dan bagian yang tak terpisahkan, termasuk dalam keseharian kita. Memiliki dan mengibarkan bendera merah putih di depan rumah setiap moment penting kenegaraan adalah salah satu cara menunjukkan nasionalisme, sekaligus terima kasih pada Latief, SK Trimurti, dan Suhud.