23 Oct

Artis-Artis yang Pernah Menjadi Paskibraka, Adakah Idolamu?

Artis-Artis yang Pernah Menjadi Paskibraka, Adakah Idolamu?

Selain lomba, pengibar bendera merah putih memiliki cerita keseruan tersendiri. Berita tentang mereka sontak menghiasi berbagai media. Berprestasi, satu kata untuk menggambarkan imej mereka. Di sisi lain, artis erat kaitannya dengan sensasi. Kendati demikian, ada sederet publik figur tersebut yang pernah menjadi paskibraka.

Paskibraka Nasional

Menjadi pengibar bendera merah putih di istana negara tentu tidak mudah, diperlukan penyaringan ketat. Dari banyaknya alumni, ada beberapa artis yang tergabung di dalamnya. Adakah idolamu?

Ayu Diah Pasya, artis yang kerap memainkan tokoh protagonis ini pernah menjadi paskibraka di tahun 1980. Pencapaian ini pun bukan satu-satunya prestasi yang sudah ditorehkannya semasa sekolah.

Artis yang pernah mencalonkan sebagai Wakil Bupati Kabupaten Bandung ini juga pernah menjadi pengibar bendera merah putih. Hengky Kurniawan, bertugas pada tahun 1999 pada saat pemerintahan BJ Habibie.

Lulusan ITB, seorang sutradara, bukan hanya pencapaian hidup lelaki ini. Di tahun 1990, Joko Anwar pernah menjadi seorang paskibraka. Selain sukses dengan film Pengabdi Setan, berhasil menunjukkan sikap nasionalisme juga ya.

Joko Anwar, sutradara asal Indonesia, pernah menjadi anggota Paskibraka.

Paskibraka Daerah

Sebelum nasional, paskibraka bertugas terlebih dahulu di daerah. Kendati ada yang tidak berkesempatan berupacara di istana negara, berada di tingkat ini sudah layak untuk diapresiasi.

Marcelino Lefrandt, artis senior ini pernah menjadi saksi bendera Indonesia berkibar pada perayaan 17-an di Sulawesi Utara. Bukan sekadar sebagai anggota, melainkan komandan pasukan 8. Dia mengatakan, dia sangat bangga dan sudah menyukai kegiatan tersebut sejak lama.

Menjadi saksi bendera Indonesia berkibar juga pernah dirasakan oleh artis muda Fero Walandouw. Bertugas di daerah yang sama seperti seniornya di atas, pria ini turut memenangi ajang Nyong Sulut dengan menyabet juara I.

Kalau artis yang satu ini sudah banyak diketahui orang sebagai alumni paskibraka. Menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha ‘Ungu’ bertugas pada tahun 1995.

Paskibraka Sekolah

Meski berada di tingkat awal, paskibraka sekolah merupakan prestasi yang membanggakan. Beberapa artis turut serta dalam pelaksanaan peringatan 17-an antara lain; Dea Annisa, Anisa Rahma, dan Hana Saraswati.

Menjadi pengibar bendera merah putih bukan perkara mudah. Karenanya, akan menjadi prestasi tersendiri saat berhasil melalui berbagai tahapannya. Artis, yang kerap disandingkan dengan sensasi, membuktikan bahwa mereka juga mampu memberikan sumbangsih bagi negara ini.

Sumber:
https://www.brilio.net/selebritis/10-selebritis-ini-pernah-menjadi-paskibraka-keren-abis-160817j.html

https://www.liputan6.com/showbiz/read/3619943/bangga-4-artis-ini-pernah-jadi-anggota-paskibraka
15 Oct

Hal-Hal yang Tidak Boleh Anda Lakukan pada Bendera Merah Putih

Hal-Hal yang Tidak Boleh Anda Lakukan pada Bendera Merah Putih

Bendera merah putih, bendera negara Indonesia bukanlah sekadar secarik kain berwarna. Bendera merah putih menggambarkan keberanian dan kesucian Bangsa Indonesia.

Sebagai bendera negara Indonesia, tentu saja ada aturan khusus dalam memperlakukan bendera merah putih. Perlakuan-perlakuan itu bahkan diatur di dalam hukum. Mereka yang memperlakukan bendera tidak sesuai aturan bahkan dapat dikenai sanksi pidana.

Anda tentunya tidak mau bukan terkena sanksi hukum serius? Untuk itu, kenali apa saja hal-hal yang tidak boleh Anda lakukan terhadap bendera merah putih, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009:

1. Merendahkan dan merusak Sang Saka Merah Putih

‘Pasal 24 huruf a’ menyebutkan bahwa tidak ada satu pun orang yang boleh merusak, merobek, membakar, menginjak-injak, ataupun melakukan hal-hal lain dengan tujuan menodai, merendahkan, dan menghina Sang Saka Merah Putih.

Sanksi untuk mereka yang melakukan hal-hal tersebut, seperti yang tertuang dalam Pasal 66, adalah pidana penjara paling lama 5 tahun, atau denda paling banyak 500 juta rupiah.

2. Menggunakan Bendera Indonesia untuk keperluan komersial

Bendera Merah Putih sudah seharusnya murni digunakan dalam tujuan kebangsaan dan lepas dari hal-hal yang sifatnya menguntungkan kepentingan finansial pribadi atau kelompok tertentu. Itulah alasan mengapa bendera Indonesia tidak boleh digunakan dalam reklame atau iklan yang sifatnya komersial.

3. Menggunakan bendera untuk hal yang dapat menurunkan kehormatan

Sang Saka Merah Putih tidak boleh digunakan untuk membungkus atau menutup barang, menutupi atap atau langit-langit.

Berdasarkan Pasal 66, mereka yang dengan sengaja melakukan hal-hal tersebut dapat dipidana dengan penjara maksimal 1 tahun atau denda paling banyak 100 juta rupiah.

Sang Saka Merah Putih dengan gagah berkibar di Istana Negara.

4. Mengibarkan bendera rusak

Pengibaran bendera, baik dalam upacara maupun dalam kesempatan lain pun memiliki aturan tersendiri. Bendera yang dikibarkan tidak boleh rusak, luntur, robek, kusut, dan juga kusam.

Bendera Indonesia harus dikibarkan dalam kondisi yang sebaik mungkin sehingga kehormatannya pun tetap terjaga

5. Menambahkan huruf dan gambar-gambar

Kesucian dan kehormatan bendera Indonesia harus senantiasa terjaga. Untuk itu, masyarakat Indonesia dilarang keras untuk memasang lencana atau benda apa pun, serta mencetak, menyulam, dan menulis huruf, gambar, angka, dan juga tanda lain pada bendera Indonesia. Itulah hal-hal yang tidak boleh kita lakukan terhadap bendera negara Indonesia. Nah, senantiasa hormati kesucian bendera Indonesia, dan selalu berhati-hati dalam memperlakukan Sang Saka Merah Putih, bendera kita tercinta.

09 Oct

Kisah Tiga Pengibar Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945

Kisah Tiga Pengibar Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945

Setiap kali kita memperingati perayaan kemerdekaan di tanggal 17 Agustus, ada satu benda yang selalu menarik perhatian kita. Apalagi kalau bukan bendera pusaka yang selalu dikibarkan secara khidmat oleh para pengibar bendera merah putih setiap tahunnya.

Jika sekarang kita sudah mengenal Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka), di masa kemerdekaan dulu ada 3 orang yang berperan penting untuk menegakkan sang merah putih. Siapa saja tokoh penting pengibar bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945 itu?

Latief Hendraningrat

Bernama lengkap Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) ini populer karena kelihaiannya di medan juang. Di masa tugasnya sebagai tentara, Latief pernah menjabat sebagai komandan kompi bergelar Sudanco yang merupakan pangkat tertinggi kedua yang dimiliki warga pribumi setelah Daidanco (komandan battalion).

Peran Latief dalam perjalanan deklarasi kemerdekaan sangat besar. Ia dipercaya mengamankan Jalan Pegangsaan Timur dengan menempatkan anggotanya di sekitar lokasi. Setelah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno, dia menjadi pengibar bendera merah putih pertama bersama dengan Suhud Sastro Kusumo.

Suhud Sastro Kusumo

Suhud merupakan anggota Barisan Pelopor yang dibentuk oleh Jepang. Pada tanggal 14 Agustus 1945, dia mendapatkan mandat untuk menjaga keluarga Soekarno dari segala gangguan sebelum dua hari kemudian, presiden pertama RI itu dibawa ke Rengasdengklok.

Saat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah dipersiapkan dengan matang, Suhud lantas ditugaskan untuk mempersiapkan tiang bendera. Dia kemudian membentangkan Sang Merah Putih untuk kemudian ditarik Latief.

Suasana Pengibaran Sang Saka Merah Putih saat momen kemerdekaan Indonesia.

Surastri Karma (SK) Trimurti

Di masanya, SK Trimurti berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Terlepas dari itu, dia juga aktif menulis dan sempat dipenjara karena mendistribusikan selebaran antikolonial. Dia kemudian menikah dengan Sayuti Melik (yang pada saat kemerdekaan bertugas mengetik teks proklamasi). Bersama Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo, tokoh yang aktif dalam organisasi perempuan ini juga berperan penting sebagai pengibar bendera merah putih pertama dalam sejarah Indonesia.

Para pengibar bendera merah putih pertama di atas namanya mungkin jarang terdengar. Namun peran yang mereka lakukan dalam Proklamasi tidak bisa dianggap kecil. Bendera merah putih kini menjadi lambang dan bagian yang tak terpisahkan, termasuk dalam keseharian kita. Memiliki dan mengibarkan bendera merah putih di depan rumah setiap moment penting kenegaraan adalah salah satu cara menunjukkan nasionalisme, sekaligus terima kasih pada Latief, SK Trimurti, dan Suhud.